Pendidikan Impian untuk Anak

abin

Meskipun anak saya baru berusia 3 bulan jalan, namun saya sudah berandai-andai akan pendidikannya. Saya menelaah sendiri pendidikan yang sejak kecil saya dapatkan, dari mulai rumah sampai kemudian memasuki jenjang pendidikan formal di lembaga yang bernama sekolah. Setelah besar dan menjadi guru, saya merasa ada yang kurang bahkan mungkin salah dalam sistem pendidikan di era saya sekolah. Kalo lihat sistem yang sekarang, sebenarnya saya juga masih kurang puas. Terutama melihat fakta bahwa pendidikan sebagian besar baru menampatkan siswa sebagai objek dalam pendidikan. Siswa seolah “dipaksa” untuk mengikuti rules yang ada. Mata pelajaran yang seabreg dengan beban kompetensi yang berat tidak sesuai dengan usianya. Bahkan saya pernah membantu PR anak tetangga kelas 4 SD, dimana pelajaran tersebut baru saya dapatkan di level SLTP dulu. Menurut saya si, pendidikan di Indonesia masih mengejar akademis semata, padahal menurut saya pendidikan adalah proses yang bisa membantu siswa bisa menemukan “role” nya di dunia ini. Entahlah, mungkin pemikiran saya ini bisa saja salah, namun yang saya rasakan pendidikan kita masih banyak yang bersifat teoritis sehingga siswa hanya sekedar menghapal bukan memahami. Nah, karena sistem itu yang membuat pemerintah, ya akhirnya mau ga mau ikut juga dengan modifikasi sendiri.. semoga saya nanti punya cukup keberanian memperjuangkan sistem pendidikan yang saya yakini.. nah, berikut beberapa pendidikan impian saya, yang setidaknya bisa saya terapkan minimal ke anak sendiri.

  1. Pendidikan akhlak dan agama. Inimah pasti semua setuju ya. Akhlak itu basic banget. Mudah-mudahan saya bisa mengajarkan yang baik-baik ke anak. Kalo soal akhlak sih sepertinya anak itu peniru ulung, so kita harus bener-bener menjaga akhlak dan perilaku kita.
  2. Pendidikan membantu anak menemukan “role” nya di dunia. Jadi idealnya menurut saya, sejak kecil kita harus memetakan tipe kecerdasan apa yang anak kita miliki. Nah setelah tau, lebih banyak porsi untuk belajar apa yang menjadi keunggulannya. Tidak membebaninya dengan beragam materi, sehingga yang ada belajar bukan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Dulu ketika saya sekolah, hanya sebatas di tanya apa cita-citamu? dan jawaban yang muncul pun karena melihat profesi tersebut keren, bergengsi tanpa tahu apa yang sebenarnya kita kuasai dan minati.
  3. Pendidikan tidak harus di sekolah. Setelah melewati banyak waktu di sekolah dan rata-rata saya sudah ga ingat lagi apa yang dulu saya pelajari, maka saya akan memberikan kebebasan kepada anak sekolah apa yang akan dia pilih. Tentunya setelah melihat bakat dan minatnya. Sekalipun dia tidak memilih sekolah formal, saya akan mengizinkannya, namun tentunya saya akan memilih sekolah yang tidak membuat anak stres dan membatasi kreativitasnya. Saya ingin juga di sekolah itu banyak kegiatan project based dan mengajarkan keterampilan hidup. Menurut saya hakikatnya kita bisa menuntut ilmu dimana saja dan kapan saja. Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah metode Homeschooling. Banyak yang sudah berhasil menerapkannya, seperti Mb Mira Julia, Ibu Peni dan tentu saja teman baik saya yang berdomisili di Jogja, Mb Irul yang bisa kalian kunjungi blognya di catatansiemak.com. Mb Irul itu keren banget, anaknya enam dan semuanya homeschooling. Rasanya suatu saat saya harus bertemu langsung dan menimba banyak ilmu langsung padanya.

Sebenarnya banyak sih yang menjadi uneg-uneg saya, tapi saat ini saya senang banyak muncul pendidikan alternatif selain homeschooling, seperti sekolah alam, erodio school of art dll. Semoga kita semua bisa memperjuangkan makna pendidikan sebenarnya, seperti yang di ajarkan Ki Hajar Dewantara.

20 comments

  1. Istiadzah Rohyati says:

    Dari anak masih bayi emang udah harus dipikirin pendidikannya mau seperti apa nanti, mbak. Aku aja udah kebingungan banget ini tahun depan mau masukin I’am ke mana >_<
    Semoga Abin dapat pendidikan yang bagus dan sesuai ya nanti gedenya :))

  2. Waya Komala says:

    Materi pelajaran sekolah sekarang sering memaksa. Bayangin aja, masuk TK diajarin baca.. padahal katanya gak boleh. Teorinya sih iya, prakteknya enggak. Ya gitu deh.. 🙂

Leave a Reply