Kemenperin Fokus Siapkan SDM Berkualitas Melalui Vokasi Industri

SDM berkualitas merupakan salah satu modal utama dalam pembangunan suatu bangsa. Tak bisa dipungkiri, SDM di Indonesia masih lumayan tertinggal dibandingkan dengan negara lain, di Asia khususnya. Apalagi saat ini kita sudah masuk era MEA. Namun saya melihat optimisme, ketika hadir di acara Peluncuran “Program Vokasi Industri untuk Wilayah Jawa Barat” yang berlokasi di PT Astra Otoparts Tbk., Cikarang Pusat, Bekasi, Jumat (27/8). Acara ini di gagas oleh Kementrian Perindustrian (Kemenperin).

Sambutan Presiden

Sambutan Presiden

Program Vokasi ini me-Link and Match Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dunia industri. Tujuannya menghasilkan tenaga kerja terampil sehingga bisa meningkatkan kinerja sektor industri. Wilayah Jawa Barat menjadi wilayah ketiga, setelah sebelumnya digelar di Jawa Timur, Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta. Untuk wilayah Jawa Barat, diresmikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo, di dampingi oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Hadir pula CEO dari berbagai industri dan para siswa perserta program vokasi dari berbagai sekolah di Jawa Barat. Beberpa sekolah pun memamerkan hasil karya produknya. Semuanya bikin kagum.

Menteri Perindustrian Meninjau Pameran

Menteri Perindustrian Meninjau Pameran

Presiden Jokowi mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah fokus pada pembangunan infrastruktur dan jika infrastuktur  telah selesai, yang harus kita lakukan adalah pembangunan SDM, dengan dimulai dari training-training, kerja sama serta link and match antara industri dan SMK. Presiden juga merasa senang sekali, industri bisa kerja sama dengan pondok pesantren. “Pada tahun 2040-2045, jika SDM Indonesia konsisten bagus, maka Indonesia akan menjadi negara terkuat ekonomi ke-4”, papar Presiden Jokowi. Beliau juga mengatakan pada Menteri Pendidikan untuk membuka jurusan-jurusan baru di SMK dengan kurikulum yang lebih fleksibel dan spesifik. Beliau berpendapat “Anak-anak muda kita dengan anak-anak muda di negara-negara lain, enggak kalah. Kita harus meyakini itu. Dan kita harus percaya diri,” tegasnya. Saya setuju secara potensi, kita unggul apalagi akan menghadapi bonus demografi. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan potensi tersebut.

Salah satu peserta Vokasi Industri

Salah satu peserta Vokasi Industri

Pada kesempatan yang sama, Bapak Airlangga mengatakan bahwa saat ini Kemenperin tengah fokus menyiapkan ketersediaan SDM lokal yang kompeten karena menjadi sebuah prasyarat untuk mendorong peningkatan produktitivas industri nasional. Kemenperin telah menyusun program pembinaan dan pengembangan yang link and match antara SMK dan industri, dengan sasaran sampai 2019 sebanyak 1.775 SMK meliputi 845.000 siswa untuk dikerjasamakan kepada 355. “Sebagai tindak lanjutnya, telah dilakukan penyelarasan kurikulum dan silabus sesuai dengan kebutuhan industri, serta penyusunan modul pembelajaran untuk 25 kompetensi keahlian bidang industri, dan telah disampaikan hasilnya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” papar Airlangga. Untuk mendukung implementasi kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri tersebut, Kemenperin akan memfasilitasi penyediaan dan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan pemagangan di industri, penyediaan silver expert sebagai tenaga pengajar di SMK, serta penyediaan peralatan untuk workshop dan laboratorium di SMK.

Berikut infografis pendidikan Vokasi Industri :

  • IMG-20170727-WA0056
  • IMG-20170728-WA0011
  • IMG-20170728-WA0012
  • Pembangunan Tenaga Kerja Melalui Vokasi Industri
    Pembangunan Tenaga Kerja Melalui Vokasi Industri

Menperin menjelaskan, pelaksanaan program vokasi industri didasarkan pada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan, di mana Kemenperin mendapat tugas antara lain untuk meningkatkan kerja sama dengan dunia usaha, memberikan akses yang lebih luas bagi siswa SMK dalam melakukan praktek kerja lapangan dan program pemagangan industri bagi guru. Untuk wilayah Jawa Barat, Kemenperin menggandeng sebanyak 140 industri dan 409 SMK dengan dilakukan penandatanganan mencapai 807 perjanjian kerja sama. “Jumlah perjanjian kerja sama itu, karena sebagian SMK dibina oleh lebih dari satu perusahaan, sesuai dengan program keahlian yang dimiliki,” tutur Airlangga. Selanjutnya, program ini secara bertahap akan dilanjutkan di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Sumatera.

Sebagai bentuk komitmen industri mendukung pembinaan dan pengembangan SMK, dalam kesempatan peluncuran program link and match ini dilakukan juga pemberian bantuan (hibah) peralatan praktik kepada SMK dari beberapa perusahaan. Perusahaan tersebut, antara lain PT.  Astra Honda Motor, PT. Astra Daihatsu Motor, PT. Suzuki Indomobil Motor, PT. Toyota Motor Manufacturing, PT. Yamaha Indonesia Motor, PT. Komatsu Indonesia, PT. Gisma Cipta Sukses, PT. Astra Otoparts, PT. Hino Motor Manufacturing, PT. Sango Indonesia, PT. Mayora, dan PT. Loreal Indonesia.

Pengembangan pondok pesantren

Di samping mendukung program revitalisasi SMK untuk penguatan pendidikan vokasi, Kemenperin juga tengah mendorong peran pondok pesantren dalam upaya mewujudkan kemandirian industri nasional. Langkah strategis ini dilakukan melalui Program Pengembangan Industri di Pondok Pesantren, yang berbasis pada Business Process Outsourcing (BPO), Joint Operation, dan Capacity Building dengan kerja sama beberapa perusahaan industri dan perbankan.

“Untuk itu, dalam kesempatan ini dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) peningkatan kapasitas kemandirian pondok pesantren dan pemberian smart card Fintech secara simbolis kepada pengelola pondok pesantren,” kata Menperin.

Aplikasi dan smart card Fintech ini bertujuan untuk mempermudah pengelolaan keuangan pondok pesantren yang dapat dimonitor secara real time, dengan beberapa fitur seperti pengiriman uang dari wali santri kepada santri, belanja di koperasi pesantren, pembelian pulsa, menabung, pemasaran produk pesantren ke masyarakat umum melalui e-commerce, serta penyediaan kredit perumahan bagi santri dan pengurus pondok pesantren ke depannya.

“Selain itu dikembangkan juga program Santripreneur yang bertujuan meningkatkan pemberdayaan ekonomi melalui penumbuhan wirausaha baru di lingkungan pondok pesantren, melalui bimbingan, pendampingan, bantuan mesin dan peralatan, serta fasilitasi promosi melalui festival ekonomi syariah Islamic Sharia Economic Festival (ISEF) tahun 2017,” papar Airlangga.

Selanjutnya, untuk mendorong SMK dan pondok pesantren mengembangkan pendidikan vokasi yang berorientasi produksi, dilakukan melalui pemanfaatan teaching factory. “Kali ini, kami melibatkan dua pesantren, yaitu Pesantren Nurul Iman di Bogor yang mempunyai 25.000 santri, dan Pondok Pesantren Sunan Derajat. Untuk Pesantren Nurul Iman bekerja sama dengan Bank Tabungan Negara, sedangkan untuk Pesantren Sunan Drajat dengan Bank Indonesia,” ungkapnya.

Airlangga menambahkan, Dalam rangka mendukung investasi dan pertumbuhan industri di kawasan industri dan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) melalui penyediaan tenaga kerja kompeten, Kemenperin juga telah mendirikan Politeknik dan Akademi Komunitas di beberapa kawasan industri dan WPPI.

Di samping mengembangkan pendidikan vokasi baik di tingkat menengah maupun tinggi, Kemenperin juga menyelenggarakan program Diklat dengan sistem 3in1 (pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja). Pada tahun 2017, target program ini diikuti sebanyak 22.000 orang. “Kami berharap, hingga tahun 2019, program diklat ini melibatkan sebanyak 162.000 orang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan peluncuran vokasi industri Jawa Barat, dilakukan penyematan tanda peserta Diklat sistem 3in1 yang diikuti oleh 400 orang, terdiri dari Diklat Operator Mesin Industri Garmen sebanyak 300 orang, yang akan ditempatkan bekerja pada 10 perusahaan industri tekstil di Jawa Barat serta Diklat Alas Kaki sebanyak 100 orang, yang akan ditempatkan bekerja di Adis Dinamika Sentosa, Majalengka. Dengan 845.000 siswa dalam program link and match dan 162.000 lulusan  diklat 3 in 1, Kemenperin optimistis target satu juta SDM industri yang tersertifikasi kompetensi sampai tahun 2019 akan tercapai.

Acara ditutup dengan peluncuran ekspor perdana Wintor, yaitu alat angkut perkebunan yang canggih dikelasnya.

Peluncuran Wintor

Peluncuran Wintor

Di undang acara yang satu ini membuat saya tambah yakin bahwa Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya, terutama dalam kulitas SDM. Sejalan dengan apa yang saya lakukan selama ini melalui PKBM Ginus Itaco dan Siswa Wirausaha yang fokus pada kebutuhan industri melalui program kewirausahaan dan keterampilan (desain grafis, programming). Saran juga semoga kurikulum SMK yang ada bisa di revitalisasi dengan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri. Karena saya masih banyak melihat lulusan SMK yang bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Saya masih melihat bahwa pendidikan masih menjadi alat ampuh untuk memutus rantai kemiskinan. Pendidikan vokasi bisa menjadi salah satu solusi untuk hal tersebut. Karena apa? siswa setelah lulus sudah sangat siap terjun ke dunia industri ketika untuk meneruskan pendidikan universitas membutuhkan biaya, sedangkan mereka diharapkan bisa segera membantu keluarganya. Saya juga mengapresiasi program kerjasama antara SMK dengan industri dan program sertifikasi berbasis kompetensi, sehingga siswa benar-benar teruji.

Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro bersama Produk Siswa Wirausaha, sumber foto : Detik

Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro bersama Produk Siswa Wirausaha, sumber foto : Detik

Kegiatan Siswa Wirausaha

Kegiatan Siswa Wirausaha

Terima kasih Kemenperin atas undangannya

Follow : IG @kemenperin_ri / twitter @Kemenperin_RI

Leave a Reply